Tuesday, 25 December 2018

Usaha Yang Berawal Dari Jajanan Deket Rumah #BaksoMoregan @AboutCirebonFood

source : Google

Usaha makanan kali ini terdapat di Cirebon. Kota kelahiranku. Kali ini aku baru saja bertemu dengan cabang dari kedai bakso yang berada di daerah Kalitanjung,Cirebon. Ini adalah cabang dari kedai bakso dengan nama yang sama yang ada di Rajawali, Perum. Nah, Aku baru pertama kali kesini dan akhirnya bertemu dengan ownernya langsung untuk nanya-nanya nih, gimana sih awal memulai usaha ini? Apa aja kendala dan tipsnya nih?

Awal Memulai Usaha

Nah, Tak kenal maka tak sayang nih. Kali ini, ownernya itu kakak kelas aku waktu SD loh. Dia adalah Kavin Arshiddiqi yang sekarang berdomisili di Bandung plus kuliah disana. Dan dia juga salah satu personil Abang None Seribu di Jakarta loh, guys. Dia memulai bisnis ini dengan awalnya suka dengan kedai bakso yang ada di dekat rumahnya, dan katanya kebetulan ramai juga. Jadi, dia akhirnya mulai kepikiran untuk berkerjasama dengan si mamang jualan bakso itu.

Dengan memulai kata “Mau buat cabang gak mas? Tapi, nanti saya aja yang buat cabang nya tinggal bagi hasil sama abangnya. Gimana?” Dengan begitu, akhirnya Kavin memulai usaha franchise yang katanya tinggal terima beres aja. Dari abang-abang yang jualan sampai gerobaknya dari tempat utama, Kavin hanya mencari tempat dan meneruskan usahanya itu.

Awalnya dia memang hobi berjualan, “Berjualan itu kan sebaik-baiknya usaha kata Rasulullah”paparnya. Dan dia pun akhirnya memulai usaha Kedai Bakso Moregan ini memakai tabungannya sendiri, lho. Dan Kavin sudah memulai usahanya sejak kurang lebih 5 tahun berjalan. Wah, keren ya!. Dan cabangnya ini baru buka tanggal 22 Desember kemarin.

Suka Duka Berbisnis

“Banyak banget suka dukanya. Sukanya ya bisa menghasilkan uang sendiri tanpa harus minta-minta ke orang tua lagi. Duka nya pasti banyak yah, Yang harus ngebesarin toko tapi lagi gak ada dana. Yaa, banyaklah gak bisa disebutin satu-satu” paparnya. Bisnis ini adalah usaha dan modal dari dia sendiri. Kata dia ini adalah bisnis nya sendiri bukan bisnis keluarga, yang awalnya aku kira begitu. Ternyata tidak.

“Harus siapin mental sih kalau mau terjun ke dunia bisnis itu.” Memang benar. Apalagi persaingan yang banyak. Kan, banyak kedai bakso lain yang mungkin lebih enak. Makanya, katanya kita harus banyak-banyak promosi di social media karena sekarang itu lagi masa-masanya teknologi yang itu harus di manfaatkan.



Memulai Dengan Hobi & Passionnya

Setiap orang pasti memiliki passion dan hobinya masing-masing. Nah, bagi Kavin hobinya itu salah satunya adalah berbisnis. Selain itu sesuai sunnah, dia pun memaparkan kalau berbisnis itu enak, dan menghasilkan sekali. Banyak anak muda, yang belum kepikiran untuk memulai bisnis karena alasannya gak punya modal atau yang lain sebagainya.

Tapi, bagi anak muda seusia Kavin, dia sudah mulai berani untuk memulai hobinya dan passionnya menjadi kenyataan. Dia wujudkan dengan usaha dan pikiran anak muda. Itulah yang jarang terjadi di kalangan anak muda zaman sekarang. Yang kebanyakan, anak muda zaman sekarang masih minta uang jajan sama orang tua mereka. Tanpa berpikir, susahnya mencari uang itu bagaimana.

Inilah yang harus kita pelajari dari anak muda yang berani memulai tanpa takut dengan resiko yang bakal dia hadapi. Kita tidak akan pernah tau kalau kita tidak pernah mau mencoba. Jadi, kalau bukan kita yang memulai. Siapa lagi? Sadarilah.. Perubahan itu butuh usaha. Gimana kita mau berubah tanpa memulai perubahan?

Bagi Kalian Yang Mau Mencoba!

Kalian bisa kunjungi Instagram doi di @baksomoregan nanti juga ada maps untuk mengarahkan kalian ke tujuan. Rasa? Jangan diragukan, deh! Cobain aja sendiri.






Wednesday, 28 November 2018

Celakalah! Benar-benar Celaka!

Dalam Shohih Bukhori, dari Abu Huroirah berkata : berkata Rasulullah Shollallahu ‘alai wasallam : “Celakalah Hambanya Dinar, Celakalah hambanya Dirham, Celakalah budaknya permadani, Celakalah budaknya pakaian. Jika dia diberi dia Ridho, jika tidak diberi dia murka. Celakalah dan terbaliklah dia! Sampai dia terkena duri dan tidak di cabut lagi! Berbahagialah bagi hamba yang mengambil kendali kudanya di jalan Allah. Kusut masai Rambutnya, berdebu kedua kakinya. Dan dia berjaga-jaga di tempat penjagaan. Apabila disuruh membagi minuman maka dia bagi minumannya. Tetapi, jika dia meminta izin tidak akan diizinkan, meminta bantuan tidak akan di bantu.(Bukan orang penting, orang bawahan yang disuruh-suruh)”

Maka dalam riwayat ini menyatakan, bahwa barangsiapa yang menjadikan dunia sebagai Tuannya, sebagai Tuhannya. Maka, dia telah diperbudak oleh dunia yang padahal dunia itu lebih rendah dari sesayap nyamuk. Dunia kalau ada nilainya hanya sesayap nyamuk saja, maka tidak akan diberikan kepada orang kafir.

Dunia dinamakan dunia karena dari kata (Danii’-dalam bahasa arab) artinya rendah. Dan ini adalah keadaan dari hambanya Harta. Manusia yang menjadi budaknya dunia disifatkan ‘Celakalah dan terbalik! Dan jika dia terkena duri maka tidak akan dicabut lagi’. Karena dalam hadits ( Jika dia diberi dia Ridho, Jika dia dihalangi atau tidak diberi dia murka) sebagaimana dalam firman Allah ta’ala : ( Dan dari mereka ada yang mengolok-olok orang bershodaqoh, jika dia diberi dia ridho, jika dia tidak diberi dia akan murka ) At-Taubah : 58.

Maka dia ridhonya bukan karena Allah, dan murkanya bukan karena Allah. Dan ini juga keadaannya orang yang bergantung kepada kepemimpinan atau Rupa(bentuk)-budaknya rupa termasuk fitnah dunia yang dia menyukai seseorang karena rupanya dan membenci karena rupanya-. Atau semisalnya dari hawa nafsu pribadi. Cinta dan benci itu karena Allah, kalau dia sesat atau pelaku kebid’ahan, maka kita benci dia karena dia sesat, walaupun dia rupawan wajahnya. Kalau dia taat beribadah beriman kepada Allah, berilmu. Maka, kita mencintainya karena Allah walaupun dia Jelek rupanya.

Jika dia dapat dia Ridho, jika dia tidak dapat dia murka. Maka dia adalah budak apa yang dia inginkan tersebut. Maka perbudakan yang haqiqi : dia diperbudak oleh hatinya. Penyembahan hawa nafsu adalah ketika dia harus melakukan apa yang dia inginkan dan meninggalkan apa yang dia tidak suka. Seperti kata “Suka-suka gue, gue mau bahagia, yang penting gue happy” maka dia menjadi budak hawa nafsunya. Itulah budak yang haqiqi.

Thursday, 22 November 2018

Waktu Yang Terus Berjalan

Detik jam terus berdetik. Jam selalu berputar memberikan waktu yang terus berjalan. Di masa lalu aku tidak mengenal waktu. Di masa sekarang aku mengenal waktu. Dan di masa depan maka aku akan di tinggal karena waktu. Waktu akan terus berjalan sebagai mestinya. Dia akan terus berjalan mau siapapun orang tidak suka padanya dia akan terus berjalan. Jadilah waktu yang selalu berjalan selalu memberikan waktu kini dengan segenap hati.

Di setiap waktu kita di tuntut untuk selalu memberi karya terbaik. Setiap waktu yang terlewat terkadang ada saja rasa penyesalan, padahal sudah melakukan sebisanya, semampunya. Itulah waktu. Waktu tak akan memikirkan kita yang sudah kewalahan untuk melaksanakan tugas, tiba-tiba waktu sudah terlewat banyak. Dia tidak akan peduli pada kita orang yang malas. Dia pun tidak akan peduli pada orang yang rajin. Mau dia mengejarnya atau mendiami nya saja.

Waktu adalah suatu hal yang sangat berharga sampai-sampai orang menyamakannya dengan uang. Ya, ia memang sangat berharga. Bahkan Allah pun bersumpah atas nama waktu. Demi masa, sesungguhnya manusia benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal sholeh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.

Itulah penggalan ayatnya. Semua manusia berada dalam kerugian apabila dia tidak mengisi waktunya dengan perbuatan-perbuatan baik. Maka surat ini menerangkan bahwa manusia yang tidak dapat menggunakan waktunya dengan sebaik-baiknya termasuk golongan orang yang merugi.

Sunday, 18 November 2018

Perumpamaan Lilin

Kalian tau lilin? Adalah alat pencahayaan yang akan hidup ketika dibakar. Dan kalian tau tidak filosofinya?. Hmm. Lilin itu adalah Syahid menurutku. Mengapa? Karena dia rela membakar dirinya demi untuk menerangi orang banyak. Itulah lilin. Dia rela membakar dirinya sendiri hanya demi kepentingan orang lain.
Suatu hal yang sangat jarang kita temukan orang seperti itu di zaman sekarang ini. Zaman yang sudah di penghujungnya. Akhir zaman. Ketika manusia tak lagi bisa merelakan dirinya untuk kepentingan orang lain. Lilin. Perumpamaan lilin itu seperti orang yang mati syahid. Mati syahid adalah orang yang mati dalam peperangan membela agamanya. Dia rela mati untuk membela Allah dan Agamanya. Dan pasti ganjarannya sangat besar. Bagi seorang yang mati syahid dia akan masuk syurga dan di hari akhir dia akan di ajak bicara oleh Allah. Itu suatu kehormatan yang sangat.

Yang tak akan didapatkan bagi orang yang tidak mau mengorbankan sedikit saja untuk Agamanya. Untuk orang lain minimal. Kalau masih tidak bisa keluarganya minimal. Kalau masih tidak bisa berarti kalian hanya bisa mengorbankan diri hanya untuk diri kalian sendiri. Syahid dan Lilin. Suatu hal yang bahkan tidak ada nyambungnya bagi orang yang tidak berpikir.

Suatu saat kita pasti akan ada yang kita korbankan untuk orang lain. Berdoalah. Kalian mungkin atau pasti akan bisa mengorbankan diri kalian untuk anak kalian sendiri atau istri kalian suami kalian. Pasti. Karena setiap orang memiliki hati terlunak dalam dirinya.

Hati yang tulus itulah yang dapat membuat dia mengorbankan dirinya demi Allah demi orang lain. Siapa lagi kalau bukan Hati orang-orang mukmin? Hati yang Allah berikan cinta yang tulus untuk mencintai sesamanya dan Tuhannya.
Hati orang mukmin akan rela mengorbankan dirinya demi orang lain dan bahkan Allah. Dan hei, mungkin saja suatu saat besok lusa atau pun setelah kalian membaca ini kalian akan mengorbankan hati kalian diri-diri kalian keluarga kalian harta yang kalian usahakan dan perasaan kalian mungkin, hanya untuk Allah. Zat yang maha Cinta zat yang maha Pemberi Zat yang Maha Penyayang. Dan kalian tidak akan merugi sedikitpun.

Tuesday, 25 September 2018

Darimana sih asal viral Hashtag #ApaUrusanAnda ?

#ApaUrusanAnda


Hari ini lagi booming banget di Instagram maupun media sosial lainnya berkat hashtag #ApaUrusanAnda . Sebenarnya hashtag ini asal usulnya dari mana sih?

Ternyata, ini berasal dari perkataan Gubernur Sumut dan Ketua Umum PSSI yaitu Edy Rahmayadi pada saat tayangan di suatu acara televisi. Ketika itu beliau ditanya oleh seorang reporter dengan pertanyaan "Anda kan sekarang menjadi Gubernur Sumatera Utara. Apakah anda merasa terganggu dengan anda masih menjabat menjadi ketua umum PSSI?"

Dan ketika itu beliau menjawab dengan "Apa urusan anda bertanya seperti itu?"
Seketika reporter tersebut pun menjawab "Saya bertanya kepada Anda pak. Kalau tidak tentu anda sangat mudah menjawabnya, Pak"

Dan dengan nada yang tegas beliau menjawab "Bukan hak Anda juga bertanya kepada saya seperti itu"

Seketika tayangan tersebut sudah banyak di tanggapi oleh banyak Nitizen dan masyarakat tentunya. Dan saat ini hashtag #ApaUrusanAnda di instagram sudah ada 155 postingan. Dan banyak yang pro dan kontra dengan perkataan pak Edy tersebut.

Tetapi, banyak juga yang memuji seperti penyanyi terkenal Anji di Instagramnya @duniamanji dia memuji perlakuan pak Edy tersebut.

Nah, guys bagaimana pendapat kalian tentang hal ini? Silahkan comment di bawah ya..


Sunday, 20 August 2017

Inilah Sosok Pengidap Kanker Yang Fotonya Dipajang Di Bungkus Rokok



Kamu pasti sangat familiar dengan gambar kanker tenggorokan yang terpampang dalam bungkus rokok. Gambar tersebut akan kamu temukan dalam setiap rokok yang di jual bebas di Indonesia. Namun, tak banyak yang tahu siapa sebenarnya sang pengidap kanker tersebut.

Dilansir laman IDNTimes, sosok tersebut adalah pengidap kanker laring bernama Edison Siahaan. Al Jazeera merekam melalui video bagaimana kesaksian Edison hingga akhirnya kanker menggrogoti lehernya. Edison Siahaan mengaku mulai menjadi perokok mulai umur 15 tahun. Kebiasaan ini pun membuatnya kecanduan dan dia merasa tidak enak setiap harinya kalau tidak merokok.

Ternyata, kecanduan rokok yang memberikan dampak yang buruk bagi Edison. Pasalnya, pria ini divonis dokter mengidap kanker tenggorokan. Yang mengejutkannya, kanker yang diidap pria 78 tahun ini ternyata sudah sangat parah.



Dokter pun terpaksa melakukan operasi dengan cara membuat lubang pada tenggorokan Edison. Dia kini hanya bisa meratapi nasibnya dan sangat sedih saat mengingat ketika dia mengidap kanker tersebut. Ayah dari 5 orang anak, sekaligus kakek dari 4 orang cucu ini mengaku selalu merokok 3 bungkus perhari selama 50 tahun lamanya.

Bahkan istrinya pun juga harus mengidap penyakit stroke karena masalah yang sama. Pria ini juga mengingatkan kerugian yang akan ditimbulkan dari rokok kepada para perokok yang juga kecanduan seperti dirinya.

Dia bahkan kehilangan pekerjaannya karena tenggorokan lainnya untuk bisa berbicara normal lagi. Merokok juga akan menyebabkan kerugian  finansial karena perokok lebih suka menghamburkan uangnya untuk membeli rokok.

Kemudian, saat perokok tersebut mengidap kanker, mereka juga harus mengeluarkan uang yang sangat besar untuk biaya operasi. Meski 400.000 orang di Indonesia meninggal tiap tahunnya akibat merokok, pemerintah tetap saja mengembangkan bisnis ini karena memberikan omzet yang sangat besar.

Dan terdapat banyak dalil dari Al-Quran pun menyebutkan untuk jangan menzalimi diri sendiri salah satunya adalah :"Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui."

Sudah merugikan diri sendiri terus menghambur-hamburkan duit lagi. Sayang kan? Sudah dibeli habis itu di bakar, ya cuma rokok.. Yuk, kita fikirkan lagi dampak yang terjadi jika merokok!

Semoga bermanfaat!


Wednesday, 21 June 2017

Biografi Bilal bin Rabbah

Bilal Bin Rabbah (Biografi Singkat)

Namanya adalah Bilal bin Rabah, Muazin Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasallam, memiliki kisah menarik tentang sebuah perjuangan mempertahankan aqidah. Sebuah kisah yang tidak akan pernah membosankan, walaupun terus diulang-ulang sepanjang zaman. Kekuatan alurnya akan membuat setiap orang tetap penasaran untuk mendengarnya.
Bilal lahir di daerah as-Sarah sekitar 43 tahun sebelum hijrah. Ayahnya bernama Rabah, sedangkan ibunya bernama Hamamah, seorang budak wanita berkulit hitam yang tinggal di Mekah. Karena ibunya itu, sebagian orang memanggil Bilal dengan sebutan ibnus-Sauda' (putra wanita hitam).

Bilal dibesarkan di kota Ummul Qura (Mekah) sebagai seorang budak milik keluarga bani Abduddar. Saat ayah mereka meninggal, Bilal diwariskan kepada Umayyah bin Khalaf, seorang tokoh penting kaum kafir.

Sedangkan orang-orang Barat di abad 18 (3 abad yang lalu), masih berpikir bahwa orang kulit hitam adalah hewan bukan manusia. Mereka memperlakukan orang-orang kulit hitam dengan kejam, lebih kejam dari hewan, tidak ada hak bagi orang-orang kulit hitam, membunuh dan menyiksa mereka bukanlah dosa dan dianggap perbuatan biasa. Bahkan sampai hari ini, rasisme terhadap orang-orang negroid masih bercokol di benak sebagian masyarakat Eropa dan Amerika, yang mereka tahu pisanglah makanan pokok bagi orang-orang kulit berwarna ini. Uniknya, dalam keadaan mereka yang demikian, mereka mengkritisi Islam tentang perbudakan dan persamaan harkat dan derajat manusia.
Baiklah, bercerita tentang Bilal bin Rabah, tentu yang pertama kita ingat bahwa beliau radhiallahu 'anhu adalah seorang muadzin Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Suaranya lantang terdengar ketika waktu-waktu shalat datang, sebagai panggilan bagi orang-orang yang beriman. Dia adalah seorang laki-laki kulit hitam yang pernah mengalami kejamnya perbudakan lalu mendapatkan kebebasan serta kedudukan yang tinggi dengan datangnya Islam.


 Dia adalah Bilal putra dari Rabah dan ibunya bernama Humamah, seorang laki-laki Habasyah yang lahir 3 tahun –atau kurang dari itu- setelah tahun gajah, ada juga yang mengatakan 43 tahun sebelum hijrah sebagaimana termaktub dalam
 Shuwar min Hayati ash-Shahabah. Kulit Bilal legam, badannya kurus tinggi dan sedikit bungkuk serta rambutnya lebat. Ia bukanlah dari kalangan bangsawan, Abu Bakar membelinya –masih dengan status budak- lalu membebaskannya.

 Ketika Mekah diterangi cahaya agama baru dan Rasul yang agung
 Shalallahu 'alaihi wasallam mulai mengumandangkan seruan kalimat tauhid, Bilal adalah termasuk orang-orang pertama yang memeluk Islam. Saat Bilal masuk Islam, di bumi ini hanya ada beberapa orang yang telah mendahuluinya memeluk agama baru itu, seperti Ummul Mu'minin Khadijah binti Khuwailid, Abu Bakar ash-Shiddiq, Ali bin Abu Thalib, 'Ammar bin Yasir bersama ibunya, Sumayyah, Shuhaib ar-Rumi, dan al-Miqdad bin al-Aswad.
Bilal merasakan penganiayaan orang-orang musyrik yang lebih berat dari siapa pun. Berbagai macam kekerasan, siksaan, dan kekejaman mendera tubuhnya. Namun ia, sebagaimana kaum muslimin yang lemah lainnya, tetap sabar menghadapi ujian di jalan Allah itu dengan kesabaran yang jarang sanggup ditunjukkan oleh siapa pun.

Orang-orang Islam seperti Abu Bakar dan Ali bin Abu Thalib masih memiliki keluarga dan suku yang membela mereka. Akan tetapi, orang-orang yang tertindas (mustadh'afun) dari kalangan hamba sahaya dan budak itu, tidak memiliki siapa pun, sehingga orang-orang Quraisy menyiksanya tanpa belas kasihan. Quraisy ingin menjadikan penyiksaan atas mereka sebagai contoh dan pelajaran bagi setiap orang yang ingin mengikuti ajaran Muhammad.
Kaum yang tertindas itu disiksa oleh orang-orang kafir Quraisy yang berhati sangat kejam dan tak mengenal kasih sayang, seperti Abu Jahal yang telah menodai dirinya dengan membunuh Sumayyah. Ia sempat menghina dan mencaci maki, kemudian menghunjamkan tombaknya pada perut Sumayyah hingga menembus punggung, dan gugurlah syuhada pertama dalam sejarah Islam.
Sementara itu, saudara-saudara seperjuangan Sumayyah, terutama Bilal bin Rabah, terus disiksa oleh Quraisy tanpa henti. Biasanya, apabila matahari tepat di atas ubun-ubun dan padang pasir Mekah berubah menjadi perapian yang begitu menyengat, orang-orang Quraisy itu mulai membuka pakaian orang-orang Islam yang tertindas itu, lalu memakaikan baju besi pada mereka dan membiarkan mereka terbakar oleh sengatan matahari yang terasa semakin terik. Tidak cukup sampai di sana, orang-orang Quraisy itu mencambuk tubuh mereka sambil memaksa mereka mencaci maki Muhammad.
Adakalanya, saat siksaan terasa begitu berat dan kekuatan tubuh orang-orang Islam yang tertindas itu semakin lemah untuk menahannya, mereka mengikuti kemauan orang-orang Quraisy yang menyiksa mereka secara lahir, sementara hatinya tetap pasrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kecuali Bilal, semoga Allah meridhainya. Baginya, penderitaan itu masih terasa terlalu ringan jika dibandingkan dengan kecintaannya kepada Allah dan perjuangan di jalan-Nya.
Orang Quraisy yang paling banyak menyiksa Bilal adalah Umayyah bin Khalaf bersama para algojonya. Mereka menghantam punggung telanjang Bilal dengan cambuk, namun Bilal hanya berkata, "Ahad, Ahad ... (Allah Maha Esa)." Mereka menindih dada telanjang Bilal dengan batu besar yang panas, Bilal pun hanya berkata, "Ahad, Ahad ...." Mereka semakin meningkatkan penyiksaannya, namun Bilal tetap mengatakan, "Ahad, Ahad...."
Mereka memaksa Bilal agar memuji Latta dan 'Uzza, tapi Bilal justru memuji nama Allah dan Rasul-Nya. Mereka terus memaksanya, "Ikutilah yang kami katakan!"
Bilal menjawab, "Lidahku tidak bisa mengatakannya." Jawaban ini membuat siksaan mereka semakin hebat dan keras.
Apabila merasa lelah dan bosan menyiksa, sang tiran, Umayyah bin Khalaf, mengikat leher Bilal dengan tali yang kasar lalu menyerahkannya kepada sejumlah orang tak berbudi dan anak-anak agar menariknya di jalanan dan menyeretnya di sepanjang Abthah Mekah. Sementara itu, Bilal menikmati siksaan yang diterimanya karena membela ajaran Allah dan Rasul-Nya. Ia terus mengumandangkan pernyataan agungnya, "Ahad..., Ahad..., Ahad..., Ahad...." Ia terus mengulang-ulangnya tanpa merasa bosan dan lelah.
Suatu ketika, Abu Bakar Rodhiallahu 'anhu mengajukan penawaran kepada Umayyah bin Khalaf untuk membeli Bilal darinya. Umayyah menaikkan harga berlipat ganda. Ia mengira Abu Bakar tidak akan mau membayarnya. Tapi ternyata, Abu Bakar setuju, walaupun harus mengeluarkan sembilan uqiyah emas.
Seusai transaksi, Umayyah berkata kepada Abu Bakar, "Sebenarnya, kalau engkau menawar sampai satu uqiyah-pun, maka aku tidak akan ragu untuk menjualnya."
Abu Bakar membalas, "Seandainya engkau memberi tawaran sampai seratus uqiyah-pun, maka aku tidak akan ragu untuk membelinya."
Ketika Abu Bakar memberi tahu Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasallam bahwa ia telah membeli sekaligus menyelamatkan Bilal dari cengkeraman para penyiksanya, Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasallam berkata kepada Abu Bakar, "Kalau begitu, biarkan aku bersekutu denganmu untuk membayarnya, wahai Abu Bakar."
Ash-Shiddiq Rodhiallahu 'anhu menjawab, "Aku telah memerdekakannya, wahai Rasulullah."
Setelah Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasallam mengizinkan sahabat-sahabatnya untuk hijrah ke Madinah, mereka segera berhijrah, termasuk Bilal Rodhiallahu 'anhu. Setibanya di Madinah, Bilal tinggal satu rumah dengan Abu Bakar dan 'Amir bin Fihr. Malangnya, mereka terkena penyakit demam. Apabila demamnya agak reda, Bilal melantunkan gurindam kerinduan dengan suaranya yang jernih :
Duhai malangnya aku, akankah suatu malam nanti
Aku bermalam di Fakh dikelilingi pohon idzkhir dan jalil
Akankah suatu hari nanti aku minum air Mijannah
Akankah aku melihat lagi pegunungan Syamah dan Thafil
Tidak perlu heran, mengapa Bilal begitu mendambakan Mekah dan perkampungannya; merindukan lembah dan pegunungannya, karena di sanalah ia merasakan nikmatnya iman. Di sanalah ia menikmati segala bentuk siksaan untuk mendapatkan keridhaan Allah. Di sanalah ia berhasil melawan nafsu dan godaan setan.
Bilal tinggal di Madinah dengan tenang dan jauh dari jangkauan orang-orang Quraisy yang kerap menyiksanya. Kini, ia mencurahkan segenap perhatiannya untuk menyertai Nabi sekaligus kekasihnya, Muhammad Shalallahu 'alaihi wasallam. Bilal selalu mengikuti Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasallam ke mana pun beliau pergi.
Selalu bersamanya saat shalat maupun ketika pergi untuk berjihad. Kebersamaannya dengan Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasallam ibarat bayangan yang tidak pernah lepas dari pemiliknya.
Ketika Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasallam selesai membangun Masjid Nabawi di Madinah dan menetapkan azan, maka Bilal ditunjuk sebagai orang pertama yang mengumandangkan azan (muazin) dalam sejarah Islam.
Biasanya, setelah mengumandangkan azan, Bilal berdiri di depan pintu rumah Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasallam seraya berseru, "Hayya 'alashsholaati hayya 'alalfalaahi...(Mari melaksanakan shalat, mari meraih keuntungan....)" Lalu, ketika Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasallam keluar dari rumah dan Bilal melihat beliau, Bilal segera melantunkan iqamat.
Suatu ketika, Najasyi, Raja Habasyah, menghadiahkan tiga tombak pendek yang termasuk barang-barang paling istimewa miliknya kepada Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasallam. Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasallam mengambil satu tombak, sementara sisanya diberikan kepada Ali bin Abu Thalib dan Umar ibnul Khaththab, tapi tidak lama kemudian, beliau memberikan tombak itu kepada Bilal. Sejak saat itu, selama Nabi hidup, Bilal selalu membawa tombak pendek itu ke mana-mana. Ia membawanya dalam kesempatan dua shalat 'id (Idul Fitri dan Idul Adha), dan shalat istisqa' (mohon turun hujan), dan menancapkannya di hadapan beliau saat melakukan shalat di luar masjid.
Bilal menyertai Nabi Shalallahu 'alaihi wasallam dalam Perang Badar. Ia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Allah memenuhi janji-Nya dan menolong tentara-Nya. Ia juga melihat langsung tewasnya para pembesar Quraisy yang pernah menyiksanya dengan hebat. Ia melihat Abu Jahal dan Umayyah bin Khalaf tersungkur berkalang tanah ditembus pedang kaum muslimin dan darahnya mengalir deras karena tusukan tombak orang-orang yang mereka siksa dahulu.
Ketika Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasallam menaklukkan kota Mekah, beliau berjalan di depan pasukan hijaunya bersama 'sang pengumandang panggilan langit', Bilal bin Rabah. Saat masuk ke Ka'bah, beliau hanya ditemani oleh tiga orang, yaitu Utsman bin Thalhah, pembawa kunci Ka'bah, Usamah bin Zaid, yang dikenal sebagai kekasih Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasallam dan putra dari kekasihnya, dan Bilal bin Rabah, Muazin Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasallam.
Shalat Zhuhur tiba. Ribuan orang berkumpul di sekitar Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasallam, termasuk orang-orang Quraisy yang baru masuk Islam saat itu, baik dengan suka hati maupun terpaksa. Semuanya menyaksikan pemandangan yang agung itu. Pada saat-saat yang sangat bersejarah itu, Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasallam memanggil Bilal bin Rabah agar naik ke atap Ka'bah untuk mengumandangkan kalimat tauhid dari sana. Bilal melaksanakan perintah Rasul Shalallahu 'alaihi wasallam dengan senang hati, lalu mengumandangkan azan dengan suaranya yang bersih dan jelas.
Ribuan pasang mata memandang ke arahnya dan ribuan lidah mengikuti kalimat azan yang dikumandangkannya. Tetapi di sisi lain, orang-orang yang tidak beriman dengan sepenuh hatinya, tak kuasa memendam hasad di dalam dada. Mereka merasa kedengkian telah merobek-robek hati mereka.
Saat azan yang dikumandangkan Bilal sampai pada kalimat, "Asyhadu anna muhammadan rasuulullaahi (Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah)".
Juwairiyah binti Abu Jahal bergumam, "Sungguh, Allah telah mengangkat kedudukanmu. Memang, kami tetap akan shalat, tapi demi Allah, kami tidak menyukai orang yang telah membunuh orang-orang yang kami sayangi." Maksudnya, adalah ayahnya yang tewas dalam Perang Badar.
Khalid bin Usaid berkata, "Aku bersyukur kepada Allah yang telah memuliakan ayahku dengan tidak menyaksikan peristiwa hari ini." Kebetulan ayahnya meninggal sehari sebelum Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasallam masuk ke kota Mekah..
Sementara al-Harits bin Hisyam berkata, "Sungguh malang nasibku, mengapa aku tidak mati saja sebelum melihat Bilal naik ke atas Ka'bah."
AI-Hakam bin Abu al-'Ash berkata, "Demi Allah, ini musibah yang sangat besar. Seorang budak bani Jumah bersuara di atas bangunan ini (Ka'bah)."
Sementara Abu Sufyan yang berada dekat mereka hanya berkata, "Aku tidak mengatakan apa pun, karena kalau aku membuat pernyataan, walau hanya satu kalimat, maka pasti akan sampai kepada Muhammad bin Abdullah."
Bilal menjadi muazin tetap selama Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasallam hidup. Selama itu pula, Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasallam sangat menyukai suara yang saat disiksa dengan siksaan yang begitu berat di masa lalu, ia melantunkan kata, "Ahad..., Ahad... (Allah Maha Esa)."
Sesaat setelah Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasallam mengembuskan napas terakhir, waktu shalat tiba. Bilal berdiri untuk mengumandangkan azan, sementara jasad Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasallam masih terbungkus kain kafan dan belum dikebumikan. Saat Bilal sampai pada kalimat, "Asyhadu anna muhammadan rasuulullaahi (Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah)", tiba-tiba suaranya terhenti. Ia tidak sanggup mengangkat suaranya lagi. Kaum muslimin yang hadir di sana tak kuasa menahan tangis, maka meledaklah suara isak tangis yang membuat suasana semakin mengharu biru.
Sejak kepergian Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasallam, Bilal hanya sanggup mengumandangkan azan selama tiga hari. Setiap sampai kepada kalimat, "Asyhadu anna muhammadan rasuulullaahi (Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah)", ia langsung menangis tersedu-sedu. Begitu pula kaum muslimin yang mendengarnya, larut dalam tangisan pilu.
Karena itu, Bilal memohon kepada Abu Bakar, yang menggantikan posisi Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasallam sebagai pemimpin, agar diperkenankan tidak mengumandangkan azan lagi, karena tidak sanggup melakukannya. Selain itu, Bilal juga meminta izin kepadanya untuk keluar dari kota Madinah dengan alasan berjihad di jalan Allah dan ikut berperang ke wilayah Syam.
Awalnya, ash-Shiddiq merasa ragu untuk mengabulkan permohonan Bilal sekaligus mengizinkannya keluar dari kota Madinah, namun Bilal mendesaknya seraya berkata, "Jika dulu engkau membeliku untuk kepentingan dirimu sendiri, maka engkau berhak menahanku, tapi jika engkau telah memerdekakanku karena Allah, maka biarkanlah aku bebas menuju kepada-Nya."
Abu Bakar menjawab, "Demi Allah, aku benar-benar membelimu untuk Allah, dan aku memerdekakanmu juga karena Allah."
Bilal menyahut, "Kalau begitu, aku tidak akan pernah mengumandangkan azan untuk siapa pun setelah Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasallam wafat."
Abu Bakar menjawab, "Baiklah, aku mengabulkannya." Bilal pergi meninggalkan Madinah bersama pasukan pertama yang dikirim oleh Abu Bakar. Ia tinggal di daerah Darayya yang terletak tidak jauh dari kota Damaskus. Bilal benar-benar tidak mau mengumandangkan azan hingga kedatangan Umar ibnul Khaththab ke wilayah Syam, yang kembali bertemu dengan Bilal Radhiallahu 'anhu setelah terpisah cukup lama.
Umar sangat merindukan pertemuan dengan Bilal dan menaruh rasa hormat begitu besar kepadanya, sehingga jika ada yang menyebut-nyebut nama Abu Bakar ash-Shiddiq di depannya, maka Umar segera menimpali (yang artinya), "Abu Bakar adalah tuan kita dan telah memerdekakan tuan kita (maksudnya Bilal)."
Dalam kesempatan pertemuan tersebut, sejumlah sahabat mendesak Bilal agar mau mengumandangkan azan di hadapan al-Faruq Umar ibnul Khaththab. Ketika suara Bilal yang nyaring itu kembali terdengar mengumandangkan azan, Umar tidak sanggup menahan tangisnya, maka iapun menangis tersedu-sedu, yang kemudian diikuti oleh seluruh sahabat yang hadir hingga janggut mereka basah dengan air mata. Suara Bilal membangkitkan segenap kerinduan mereka kepada masa-masa kehidupan yang dilewati di Madinah bersama Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasallam..Bilal, "pengumandang seruan langit itu", tetap tinggal di Damaskus hingga wafat.
Disalin dari Biografi Ahlul Hadits, yang bersumber dari Shuwar min Hayaatis Shahabah, karya Doktor 'Abdurrahman Ra'fat Basya




Populer

Diam 1000 kata #season 1

Prolog Sejak lahir aku terlahir bisu dan aku sudah terlahir gendut,karena aku memang dari Ayahku keturunan gendut. Aku sejak kecil selalu ba...